Paroki St. Maria Tak Bernoda Rangkassitung

Sabtu, 30 Agustus 2014

Renungan Hari Minggu Biasa XXII, 30 Agustus 2014

Pengantar
Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus. Hari ini kita memasuki Hari Minggu Biasa XXII. Intensi Misa untuk Misa hari ini adalah ...
Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, setiap perutusan apapun bentuknya, pasti memiliki resiko dan konsekuensi. Atas segala resiko dan konsekuensi tersebut seorang pelayan atau utusan harus membuat pilihan: berhenti atau terus. Hanya orang terpilihlah yang akan tetap setia menjalankan perutusan meskipun resiko yang dihadapi  demikian berat. Menyerahkan segala perkara kepada Tuhan adalah jalan terbaik ketika beban yang harus ditanggung terasa berat.

Homili
Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, dalam Bacaan Pertama hari ini (Yer 20:7-9), Nabi Yeremia berkeluh kesah di hadapan Tuhan. Karena Firman Tuhan yang ia wartakan, jadi tertawaan sepanjang hari, semua orang mengolok-oloki dia, ia dicela, dan dicemooh, sampai-sampai ia berpikir untuk melupakan Tuhan dan tidak lagi mengucapkan firman demi nama-Nya. Tetapi ia tak kuasa menolak panggilan Tuhan, tak kuasa menghindari tugas yang diberikan Tuhan.

Senada dengan Bacaan Pertama, Mazmur Tanggapan hari ini mengungkapkan kerinduan kita akan Tuhan: Jiwaku haus pada-Mu, Tuhan, ingin melihat wajah Allah. Jiwaku mencari-cari Tuhan, ia menghauskan Tuhan laksana gurun gersang, tandus tanpa air. Ia yakin, hanya Allah-lah yang menolongnya dan di bawah sayap-Nya sentosalah ia.
Sebagai seorang Rasul, Paulus memberikan nasihat peneguhan supaya kaum beriman mempersembah-kan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan di hati Allah. Bahkan Paulus menegaskan pengurbanan itu sebagai ibadat yang sejati. Dalam situasi seberat apa pun, kaum beriman hendaknya tidak hanyut dalam arus dunia, tetapi harus tampil sebagai manusia baru yang dapat menangkap kehendak Allah, dapat membedakan mana yang baik, mana yang berkenan di hati Allah, dan yang sempurna. (Roma 12:1-2)
Dalam Bacaan Injil Yesus menyatakan bahwa Ia harus menderita dan dibunuh sebelum akhirnya dibangkitkan pada hari ketiga. Bahkan Yesus menegaskan bahwa “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Penderitaan tak dapat dipisahkan dari hidup pengikut Kristus. Bahkan mereka harus berani kehilangan nyawa demi Kristus, karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia justru akan kehilangan nyawanya. Tetapi Yesus memberikan jaminan bahwa di balik penderitaan itu ada kemuliaan. Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya kembali. Pada waktu Anak Manusia datang dalam kemuliaan, Ia akan membalas setiap orang setimpal dengan perbuatannya.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus, bagaimana bacaan hari ini dapat kita realisasikan dalam kehidupan sehari-hari?
Tugas, pekerjaan dan pelayanan yang kita jalankan tidak selalu mulus. Tak jarang kita menemukan godaan untuk meninggalkan tugas kita, pekerjaan kita dan pelayanan kita. Tak jarang kita dicela dan cemooh dengan apa yang kita lakukan. Kita kita menghadapi hal tersebut, ada dua pilihan yang harus kita tentukan salah satunya: berhenti atau terus. Kalau berhenti tentu kita akan aman, aman dari segala cela, godaan ataupun penderitaan yang muncul dalam tugas, pekerjaan dan pelayanan kita. Namun kita tidak dapat menikmati indahnya Salib Tuhan. Sebaliknya, jika kita terus tentu godaan yang kita jumpai tidak hanya satu atau dua kali, namun jika kita setia dan menyerahkan semuanya pada penyelenggaraan ilahi tentunya: “Ia akan membalas setiap orang setimpal dengan perbuatannya.”
Marilah, saudara-saudari yang terkasih kita bertanya pada diri kita masing-masing sekaligus membuat komitmen baru, siapkah dalam kehidupan sehari-hari, aku mempertahankan imanku; iman akan Yesus Kristus dalam sikap, kata dan perbuatanku?

Tuhan memberkati kita.


RD. Antonius Garbito Pamboaji

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar